EVALUASI, PENILAIAN DAN PENGUKURAN PEMBELAJARAN

(Moch. Lutfianto)

Sebagai seorang pendidik pasti tidak akan terlepas dengan istilah evaluasi, penilaian, dan pengukuran. Istilah tersebut terkadang membuat bingung kita dikarenakan kurangnya pengetahuan tentangnya. Pendidik mempersepsikan evaluasi, penilaian, dan pengukuran sebagai sesuatu yang sama padahal makna dari ketiga istilah tersebut sebenarnya berbeda. Bahkan, tertukarnya makna dari istilah tersebut merupakan hal yang jamak ditemui di dunia pendidikan terutama pada kalangan guru. Untuk menentukan hasil pembelajaran yang baik maka dibutuhkan alat ukur (tes) yang tepat dan handal. Tepat dan handalnya alat ukur itu diperlukan pengetahuan yang baik tentang evaluasi, penilaian, dan pengukuran sehingga mutlak dibutuhkan oleh pendidik.

EVALUASI

Evaluasi yang dalam bahasa inggris dikenal dengan istilah Evaluation adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan program telah tercapai (Gronlund, 1985, dalam Djaali dan Pudji M).

Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Wrightstone, dkk (1956) yang mengemukakan bahwa evaluasi pendidikan adalah penaksiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan siswa ke arah tujuan atau nilai-nilai yang telah ditetapkan dalam kurikulum.

Evaluasi dapat juga diartikan sebagai proses menilai suatu berdasarkan kriteria atau tujuan yang telah ditetapkan yang selanjutnya diikuti dengan pengambilan keputusan atas obyek yang dievaluasi. Sebagai contoh evaluasi proyek, kriterianya adalah tujuan dari pembangunan proyek tersebut, apakah tercapai atau tidak, apakah sesuai dengan rencana atau tidak, jika tidak mengapa terjadi demikian, dan langkah-langkah apa yang ditempuh selanjutnya. Hasil dari kegiatan evaluasi adalah bersifat kualitatif. Sudijono (1996) mengemukakan bahwa evaluasi pada dasarnya adalah merupakan penafsiran atau interpretasi yang bersumber pada data kuantitatif sedang data kualitatif merupakan hasil dari pengukuran. (Djaali dan Pudji M., 2008)

Evaluasi menurut Suharsimi A. (2004) adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan.

Menurut Benjamin Bloom tentang jenjang kemampuan perlu diukur untuk melihat tingkat keberhasilan proses belajar mengajar. Bloom et al, (1971) menyatakan pengertian evaluasi dalam lingkup sekolah memiliki batasan sebagai berikut:

“evaluation, as we see it, is the systematic collection of evidence to determine whether in fact certain changes are taking place in the learner as well as to determine the amount or degree of change in individual students”

Sedangkan Suke Silverius dalam bukunya evaluasi hasil belajar dan umpan balik menjelaskan batasan istilah lain dari evaluasi yakni:

  1. Evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk menilai alternatif keputusan (Stufflenbeam).
  2. Penentuan kesesuaian antara penampilan (untuk kerja)  dan tujuan.
  3. Pertimbangan professional atau suatu proses yang memungkinkan seseorang membuat pertimbangan tentang daya tarik atau nilai sesuatu.

Evaluasi menurut Kumano (2001) merupakan penilaian terhadap data yang dikumpulkan melalui kegiatan asesmen. Sementara itu menurut Calongesi (1995) evaluasi adalah suatu keputusan tentang nilai berdasarkan hasil pengukuran. Sejalan dengan pengertian tersebut, Zainul dan Nasution (2001) menyatakan bahwa evaluasi dapat dinyatakan sebagai suatu proses pengambilan keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar, baik yang menggunakan instrumen tes maupun non tes.

Secara garis besar dapat dikatakan bahwa evaluasi adalah pemberian nilai terhadap kualitas sesuatu. Selain dari itu, evaluasi juga dapat dipandang sebagai proses merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif-alternatif keputusan. Dengan demikian, Evaluasi merupakan suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauhmana tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa (Purwanto, 2002). Cronbach (Harris, 1985) menyatakan bahwa evaluasi merupakan pemeriksaan yang sistematis terhadap segala peristiwa yang terjadi sebagai akibat dilaksanakannya suatu program.

Berdasarkan tujuannya, terdapat pengertian evaluasi sumatif dan evaluasi formatif. Evaluasi formatif dinyatakan sebagai upaya untuk memperoleh feedback perbaikan program, sementara itu evaluasi sumatif merupakan upaya menilai manfaat program dan mengambil keputusan (Lehman, 1990).

PENILAIAN

Kegiatan penilaian merupakan tindak lanjut dari adanya alat ukur (tes) dan dilaksanakannya pengukuran yang menghasilakan hasil pengukuran. Keputusan mengenai penilaian tidak semata-mata didasarkan pada hasil pengukuran tetapi ada unsure pertimbangan lain.

Istilah penilaian (assessment) diartikan oleh Stiggins (1994) (dalam Ana Ratna Wulan) sebagai penilaian proses, kemajuan, dan hasil belajar siswa (outcomes). Sementara itu assessment atau penilaian diartikan oleh Kumano (2001) sebagai “The process of Collecting data which shows the development of learning”. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penilaian merupakan istilah yang tepat untuk menilai proses belajar siswa. Namun meskipun proses belajar siswa merupakan hal penting yang dinilai dalam penilaian, faktor hasil belajar juga tetap tidak dikesampingkan.

Secara umum makna penilaian adalah suatu proses atau kegiatan yang sistematis dan berkesinambungan untuk mengumpulkan informasi tentang proses dan hasil belajar peserta didik dalam rangka membuat keputusan-keputusan berdasarkan kriteria dari pertimbangan tertentu. Kegiatan penilaian harus dapat memberikan informasi kepada guru untuk meningkatkan kemampuan mengajarnya dan membantu peserta didik mencapai perkembangan belajarnya secara optimal. Implikasinya adalah kegiatan penilaian harus digunakan sebagai cara atau teknik untuk mendidik sesuai dengan prinsip pedagogik. Guru harus menyadari bahwa kemajuan belajar perserta didik merupakan salah satu indikator keberhasilan dalam pembelajaran.

PENGUKURAN

Pengukuran dalam bahasa inggris yang memiliki istilah measurement merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengukur dalam arti memberi angka terhadap sesuatu yang disebut obyek pengukuran atau obyek ukur. Mengukur pada hakekatnya adalah pemasangan korespondensi satu-satu antara angka yang diberikan dengan fakta dan diberi angka atau diukur (Djaali dan Pudji M., 2008). Menurut Calongesi (dalam Djaali dan Pudji M.) yang dimaksud dengan pengukuran (measurement) adalah suatu proses pengumpulan data melalui pengamatan empiris untuk mengumpulkan informasi yang relevan dengan tujuan yang telah ditentukan. Dalam hal ini guru menaksir prestasi siswa dengan membaca atau mengamati apa saja yang dilakukan siswa, mengamati kinerja mereka, mendengar apa yang mereka katakan, dan menggunakan indera mereka seperti melihat, mendengar, menyentuh, mencium, dan merasakan.

Measurement (pengukuran) merupakan proses yang mendeskripsikan performance siswa dengan menggunakan suatu skala kuantitatif (system angka) sedemikian rupa sehingga sifat kualitatif dari performance siswa tersebut dinyatakan dengan angka-angka (Alwasilah et al.1996). Pernyataan tersebut diperkuat dengan pendapat yang menyatakan bahwa pengukuran merupakan pemberian angka terhadap suatu atribut atau karakter tertentu yang dimiliki oleh seseorang, atau suatu obyek tertentu yang mengacu pada aturan dan formulasi yang jelas. Aturan atau formulasi tersebut harus disepakati secara umum oleh para ahli (Zainul & Nasution, 2001). Dengan demikian, pengukuran dalam bidang pendidikan berarti mengukur atribut atau karakteristik peserta didik tertentu. Dalam hal ini yang diukur bukan peserta didik tersebut, akan tetapi karakteristik atau atributnya. Senada dengan pendapat tersebut, Secara lebih ringkas, Arikunto dan Jabar (2004) menyatakan pengertian pengukuran (measurement) sebagai kegiatan membandingkan suatu hal dengan satuan ukuran tertentu sehingga sifatnya menjadi kuantitatif (Ana Ratna Wulan)

Menurut Zainul dan Nasution (2001) pengukuran memiliki dua karakteristik utama yaitu: 1) penggunaan angka atau skala tertentu; 2) menurut suatu aturan atau formula tertentu.


HUBUNGAN EVALUASI, PENILAIAN DAN  PENGUKURAN.

Secara umum hubungan antara evaluasi, penilaian dan pengukuran menurut Gabel (1993) menyatakan bahwa evaluasi merupakan proses pemberian penilaian terhadap data atau hasil yang diperoleh melalui pengukuran. Hubungan antara evaluasi, penilaian, pengukuran dan tes dapat dilihat pada gambar 1.

Gambar 1. Hubungan antara evaluasi, penilaian, pengukuran dan tes.

Antara penilaian dan evaluasi sebenarnya memiliki persamaan dan perbedaan, yaitu :

Persamaannya adalah keduanya mempunyai pengertian menilai atau menentukan nilai sesuatu, disamping itu juga alat yang digunakan untuk mengumpulkan datanya juga sama. Evaluasi dan penilaian lebih bersifat kualitatif. Pada hakikatnya keduanya merupakan suatu proses membuat keputusan tentang nilai suatu objek.

Perbedaannya terletak pada ruang lingkup dan pelaksanaannya. Ruang lingkup penilaian lebih sempit dan biasanya hanya terbatas pada salah satu komponen atau aspek saja, seperti prestasi belajar. Pelaksanaan penilaian biasanya dilakukan dalam konteks internal. Ruang lingkup evaluasi lebih luas, mencangkup semua komponen dalam suatu sistem dan dapat dilakukan tidak hanya pihak internal tetapi juga pihak eksternal. Evaluasi dan penilaian lebih bersifat komprehensif yang meliputi pengukuran, sedangkan tes merupakan salah satu alat (instrument) pengukuran. Pengukuran lebih membatasi pada gambaran yang bersifat kuantitatif (angka-angka) tentang kemajuan belajar peserta didik, sedangkan evaluasi dan penilaian lebih bersifat kualitatif. Keputusan penilaian tidak hanya didasarkan pada hasil pengukuran, tetapi dapat pula didasarkan hasil pengamatan dan wawancara.

SUMBER:

Alwasilah, et al. (1996). Glossary of educational Assessment Term. Jakarta: Ministry of Education and Culture.

Arikunto, S & Jabar. 2004. Evaluasi Program Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

Calongesi, J.S. 1995. Merancang Tes untuk Menilai Prestasi Siswa. Bandung : ITB

Djaali dan pudji muljono. (2008). Pengukuran dalam Bidang Pendidikan. Grasindo. Jakarta

Gabel, D.L. (1993). Handbook of Research on Science Teaching and Learning. New York: Maccmillan Company.

Kumano, Y. 2001. Authentic Assessment and Portfolio Assessment-Its Theory and Practice. Japan: Shizuoka University.

Lehmann, H. (1990). The Systems Approach to Education. Special Presentation Conveyed in The International Seminar on Educational Innovation and Technology Manila. Innotech Publications-Vol 20 No. 05.

Ratna Wulan, Ana. Pengertian Esensi Konsep Evaluasi, Assesmen, Tes, dan Pengukuran. FMIPA UPI. Bandung