PENGETAHUAN, PENGETAHUAN ILMIAH, PENELITIAN ILMIAH, JENIS PENELITIAN

(Moch. Lutfianto)

  1. A.    Definisi Pengetahuan

Pengetahuan adalah informasi yang telah dikombinasikan dengan pemahaman dan potensi untuk menindaki, yang lantas melekat di benak seseorang. Pada umumnya, pengetahuan memiliki kemampuan prediktif terhadap sesuatu sebagai hasil pengenalan atas suatu pola. Manakala informasi dan data sekedar berkemampuan untuk menginformasikan atau bahkan menimbulkan kebingungan, maka pengetahuan berkemampuan untuk mengarahkan tindakan. Inilah yang disebut potensi untuk menindaki.

Dalam pengertian lain, pengetahuan adalah pelbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan akal. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya. Misalnya ketika seseorang mencicipi masakan yang baru dikenalnya, ia akan mendapatkan pengetahuan tentang bentuk, rasa, dan aroma masakan tersebut.

Dari berbagai macam sumber, pengetahuan juga memiliki makna:

  1. Pengetahuan merupakan kekayaan mental yang secara langsung atau tidak langsung memperkaya kehidupan kita, kehidupan manusia tidak luput dari pengetahuan, karena pengetahuan merupakan sumber jawaban dari berbagai pertanyaan yang muncul disekitar  kita. (Jujun S. Suriasumantri, 1990)
  2. Pengetahuan adalah sesuatu yang hadir dan terwujud dalam jiwa dan pikiran seseorang dikarenakan adanya reaksi, persentuhan, dan hubungan dengan lingkungan alam sekitarnya. (Mahammad Adlany, 2009)
  3. Pengetahuan adalah suatu keadaan yang hadir dikarenakan persentuan kita dengan suatu perkara. (Mahammad Adlany, 2009)

 

Dari berbagai definisi tentang pengetahuan Jujun S. Suriasumantri mengemukakan bahwa kumpulan pengetahuan yang disusun secara konsisten dan kebenarannya telah teruji secara empiris itulah yang disebut dengan ilmu. (Jujun S. Suriasumantri, 1990)

  1. B.     Cara memperoleh Pengetahuan

             Pengetahuan bisa didapatkan dengan beberapa cara diantaranya adalah:

  1. Melakukan pengamatan dan observasi yang dilaksanakan secara empiris dan rasional. Pengetahuan empiris tersebut juga dapat berkembang menjadi pengetahauan deskriftif bila seseorang dapat melukiskan dan menggambarkan segala ciri, sifat dan gejala yang ada pada objek empiris tersebut.
  2. Melalui pengalaman pribadi manusia yang terjadi berulang kali. Misalnya, seseorang yang sering dipilih untuk memimpin organisasi dengan sendirinya akan mendapatkan pengetahuan tentang manajemen organisasi.
  3. Melalui akal budi yang kemudian dikenal sebagai rasionalisme. Rasionalisme lebih menekankan pengetahuan yang bersipat apriori, tidak menekankan pada pengalaman. Misalnya, dalam Matematika, hasil 1 + 1 = 2 bukan didapatkan melalui pengalaman atau pengamatan empiris melainkan melalui sebuah pemikiran logis akal budi.

 

 

PENGETAHUAN ILMIAH

 

Dalam penjelasan tentang pengetahuan Jujun S. Suriasumantri mengemukakan bahwa kumpulan pengetahuan yang disusun secara konsisten dan kebenarannya telah teruji secara empiris itulah yang disebut dengan ilmu atau bisa dikatakan ilmu pengetahuan.

Ciri–ciri pengetahuan yang bersifat ilmiah :

  1. Mempunyai derajat kepastian yang tinggi, dimanah pijakan berpikirnya dilandasi pengetahuan yang luas.
  2. Mempunyai alur berpikir yang sistematis dan sistemik
  3. Memiliki kadar kebenaran yang luas dan disepakati bersama, sehingga pengetahuan ilmiah mempunyai metode ilmiah yang sama. (Wahidin, 2009)

Landasan Pengetahuan Ilmiah .

Setiap jenis pengetahuan mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistemologi), dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. (Jujun S. Suriasumantri,1990)

Ke tiga landasan ini saling berkaitan. Jadi ontologi ilmu terkait dengan epistemologi ilmu dan epistemologi ilmu terkait dengan aksiologi ilmu dst. Jadi kalau kita ingin membicarakan epistemologi ilmu, maka hal ini harus dikaitkan dengan ontologi dan aksiologi ilmu.

Ilmu mempelajari alam sebagaimana adanya dan terbatas pada lingkup pengalaman kita. Pengetahuan dikumpulkan oleh ilmu dengan tujuan untuk menjawab permasalahan kehidupan yang sehari-hari dihadapi manusia dan digunakan untuk menawarkan kemudahan. Pengetahuan ilmiah merupakan sebagai alat bagi manusia dalam memecahkan berbagai persoalan yang dihadapinya. Pemecahan tersebut pada dasarnya adalah dengan meramalkan dan mengontrol gejala alam. Dengan ilmu manusia memanipulasi dan menguasai alam. Dengan mempelajari alam manusia dapat mengembangkan pengetahuan. Pengetahuan berkembang melalui pengalaman dan  rasionalisme yang didukung oleh metode mencoba-coba/trial-and error .(Jujun S. Suriasumantri, Hal : 105-106)

Ilmu atau ilmu pengetahuan juga memiliki definisi sebagai seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.

Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi.

 

 

 

 

PENELITIAN ILMIAH

 1.   Penelitian Ilmiah

Penelitian ilmiah adalah suatu kegiatan yang sistematik dan obyektif untuk mengkaji suatu masalah dalam usaha untuk mencapai suatu pengertian mengenai prinsip-prinsipnya yang mendasar dan berlaku umum (teori) mengenai masalah tersebut. Penelitian yang dilakukan, berpedoman pada berbagai informasi (yang terwujud sebagai teori-teori) yang telah dihasilkan dalam penelitian-penelitian terdahulu, dan tujuannya adalah untuk menambah atau menyempurnakan teori yang telah ada mengenai masalah yang menjadi sasaran kajian.

Berbeda dengan penelitian tidak ilmiah, penelitian ilmiah dilakukan dengan berlandaskan pada metode ilmiah. Metode ilmiah adalah suatu kerangka landasan bagi terciptanya pengetahuan ilmiah. Dalam sains dilakukan dengan menggunakan metode pengamatan, eksperimen, generalisasi, dan verifikasi. Sedangkan dalam ilmu-ilmu sosial dan budaya, yang terbanyak dilakukan dengan menggunakan metode wawancara dan pengamatan; eksperimen, generalisasi, dan verifikasi juga dilakukan dalam kegiatan-kegiatan penelitian oleh para ahli dalam bidang-bidang ilmu-ilmu sosial dan pengetahuan budaya untuk memperoleh hasil-hasil penelitian tertentu sesuai dengan tujuan penelitiannya.

Metode ilmiah berlandaskan pada pemikiran bahwa pengetahuan itu terwujud melalui apa yang dialami oleh pancaindera, khususnya melalui pengamatan dan pendengaran. Sehingga jika suatu pernyataan mengenai gejala-gejala itu harus diterima sebagai kebenaran, maka gejala-gejala itu harus dapat di verifikasi secara empirik. Jadi, setiap hukum atau rumus atau teori ilmiah haruslah dibuat berdasarkan atas adanya bukti-bukti empirik.

Penelitian ilmiah menggunakan kaidah-kaidah ilmiah dengan mengemukakan pokok-pokok pikiran, menyimpulkan dengan melalui prosedur yang sistematis dan menggunakan pembuktian ilmiah/meyakinkan. Ada dua kriteria dalam menentukan kadar/tinggi-rendahnya mutu ilmiah suatu penelitian yaitu:

  1. Kemampuan memberikan pengertian yang jelas tentang masalah yang diteliti:
  2. Kemampuan untuk meramalkan: sampai dimana kesimpulan yang sama dapat dicapai apabila data yang sama ditemukan di tempat/waktu lain;

2.   Ciri-ciri penelitian ilmiah adalah:

  1. Purposiveness, fokus tujuan yang jelas;
  2. Rigor, teliti, memiliki dasar teori dan disain metodologi yang baik;
  3. Testibility, prosedur pengujian hipotesis jelas
  4. Replicability, Pengujian dapat diulang untuk kasus yang sama atau yang sejenis;
  5. Objectivity, Berdasarkan fakta dari data aktual : tidak subjektif dan emosional;
  6. Generalizability, Semakin luas ruang lingkup penggunaan hasilnya semakin berguna;
  7. Precision, Mendekati realitas dan confidence peluang kejadian dari estimasi dapat dilihat;
  8. Parsimony, Kesederhanaan dalam pemaparan masalah dan metode penelitiannya.

 (Uma Sekaran, 1992)

3.   Karakteristik utama penelitian ilmiah:

  1. Tujuan Penelitian: jelas, pasti dan terarah
  2. KeseriusanPenelitian: ketelitian, kehati-hatian, kepastian
  3. Dapat Diuji: hipotesis yang dapat diuji dg metode statistik tertentu
  4. Dapat direplikasi: temuan penelitian akan sama kalau diulang pada kondisi yang sama
  5. Presisi dan keyakinan: presisi mencerminkan derajat kepastian dari temuan p[enelitian terhadap kejadian yg dipelajari.  Keyakinan menunjukkan kemungkinan dari kebenaran estimasi yang dilakukan.
  6. Obyektivitas: kesimpulan penelitian harus didasarkan pada  data yang aktual
  7. Berlaku Umum: dapat-tidaknya hasil penelitian diterapkan pada berbagai keadaan.
  8. Efisien: kerangka penelitian  yang melibatkan sedikit variabel yg dapat menjelaskan suatu kejadian

(Uma Sekaran, 1992)

 

JENIS PENELITIAN

 Penelitian dapat digolongkan/dibagi ke dalam beberapa jenis berdasarkan kriteria-kriteria tertentu, antara lain berdasarkan: (1) Tujuan; (2) Pendekatan; (3) Tempat; (4) Pemakaian atau hasil / alasan yang diperoleh; (5) Bidang ilmu yang diteliti; (6) Taraf Penelitian; (7) Teknik yang digunakan; (8) Keilmiahan; (9) Spesialisasi bidang (ilmu) garapan. Berikut ini masing-masing pembagiannya.

  1. Berdasarkan hasil/alasan yang diperoleh:
    1. Basic Research (Penelitian Dasar), Mempunyai alasan intelektual, dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan;
    2. Applied Reseach (Penelitian Terapan), Mempunyai alasan praktis, keinginan untuk mengetahui; bertujuan agar dapat melakukan sesuatu yang lebih baik, efektif, efisien.
    3.  Berdasarkan Bidang yang diteliti:
    4.  Berdasarkan Tempat Penelitian :
    5.  Berdasarkan Teknik yang digunakan :
  1. Penelitian Sosial, secara khusus meneliti bidang sosial: ekonomi, pendidikan, hukum, dsb.
  2. Penelitian Eksakta, secara khusus meneliti bidang eksakta: Kimia, Fisika, Teknik, dsb.
  1. Field Research (Penelitian Lapangan), langsung di lapangan;
  2. Library Research (Penelitian Kepustakaan), dilaksanakan dengan menggunakan literatur (kepustakaan) dari penelitian sebelumnya;
  3. Laboratory Research (Penelitian Laboratorium), dilaksanakan pada tempat tertentu / lab, biasanya bersifat eksperimen atau percobaan;
  1. Survey Research (Penelitian Survei), tidak melakukan perubahan (tidak ada perlakuan khusus) terhadap variabel yang diteliti.  Penelitian survey adalah penelitian yang mengambil sample dari satu populasi dan menggunakan kuisioner sebagai alat pengumpul data yang pokok. (Singarimbun, 1998)
  2. Experimen Research (Penelitian Percobaan), dilakukan perubahan (ada perlakuan khusus) terhadap variabel yang diteliti
  1. 5.      Berdasarkan keilmiahan
    1. Penelitian Ilmiah

Menggunakan kaidah-kaidah ilmiah (Mengemukakan pokok-pokok pikiran, menyimpulkan dengan melalui prosedur yang sistematis dengan menggunakan pembuktian ilmiah/meyakinkan.

  1. Penelitian non ilmiah (Tidak menggunakan metode atau kaidah-kaidah ilmiah)
  2. 6.    Berdasarkan Spesialisasi Bidang (ilmu) garapannya :

Bisnis (Akunting, Keuangan, Manajemen, Pemasaran), Komunikasi (Massa, Bisnis, Kehumasan/PR, Periklanan), Hukum (Perdata, Pidana, Tatanegara, Internasional), Pertanian (agribisnis, Agronomi, Budi Daya Tanaman, Hama Tanaman), Teknik, Ekonomi (Mikro, Makro, Pembangunan), dll.

SUMBER

Adlani, M. 2009. Substansi Filsafat Ilmu. Jakarta

S. Suriasumantri, Jujun. 1990. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Singarimbun, Masri. 1998. Metode Penelitian Survei. Jakarta: LP3S.

Sekaran, Uma. 1992. Metode Penelitian untuk Bisnis. Jakarta: Salemba

Wahidin, Dadan. 2009. Filsafat dan Ilmu. Jakarta

About these ads