Profesionalitas guru dari sudut pandang anak SD

(Moch. Lutfianto*)

Profesional merupakan kata yang jamak kita temui, dalam segala aspek pekerjaan kata professional atau tidak profesional seolah-olah sebagai jaminan bahwa suatu pekerjaan itu akan baik atau buruk. Jika dikerjakan secara profesional maka akan berinbas pada hasil pekerjaan yang baik. Setiap orang yang berkerja menghendaki bisa professional. Karena begitu peting sekali professional sampai-sampai jika seseorang dinilai sudah perofesional akan mendapatkan banus atau hadiah. Sertifikasi guru merupakan salah satu bentuk penghargaan atas profesionalitas guru dalam berkerja. Tetapi apakah kita megerti apa yang dimasuk dengan professional pada anak sekolah dasar. Seorang anak SD mungkin tidak terlalau mengerti apa itu definisi dari kata professional. Akan tetapi dengan keluguannya terkadang anak SD dapat mengatakan sebuah kata yang didasarkan pada pengalaman pribadinya.

“Wah bu guru tidak profesional”, ya itulah kalimat yang terucap dari anak SD kelas 4. Dia mengatakannya sambil menggerutu karena telah diberikan tugas yang tidak mungkin bisa dia selesaikan. Anak itu mendapatkan tugas untuk mengerjakan soal di buku latihan dari awal hingga akhir. Dengan batas waktu yang hanya kurang dari 24 jam anak itu harus menyelesaikannya. Siswa tersebut diberikan tugas karena tidak bisa mengerjakan 1 soal yang diberikan oleh guru matematikanya. Padahal siswa yang lain yang mengalami hal yang sama hanya diberikan tugas yang sedikit. Kronologi kejadiannya memang saya tidak bergitu tahu tetapi dengan memberikan tugas yang begitu banyak itu tidaklah bijak.

Terasa aneh bagi saya karena anak SD kelas 4 sudah dapat mengatakan kata profesional. Anak kelas 4 SD sudah dapat memberikan judgement apakah seorang guru itu professional atau tidak. Seyogyanya seorang pendidik bisa memberikan sebijak mungkin tugas yang tidak hanya bisa mendidik siswa untuk maju tetapi juga memperhitungkan tentang kemampuan dari masing-masing siswa. Tidak semua tugas bisa diselesaikan oleh siswa yang berbeda sebaliknya tidak semua siswa bisa mengerjakan tugas yang sama. Profesionalitas harus ditunjukan dengan sikap terbaik kita dalam mendidik siswa.

(* “teacher, lecturer and researcher in mathematics education”)