Math Prodigy

Moch. Lutfianto

Jika kita pernah menonton film “3 idiots” maka kita akan melihat tokoh utama dalam film itu yakni Rancholdas Shamaldas Chancad.  Nama tokoh dalam film ini dikisahkan merupakan anak yang luar biasa pandai yang pada usia 10 tahun (Sekolah Dasar) sudah belajar dan menguasai materi matematika kelas SMA. Kemudian di akhir cerita dia menjadi seorang ilmuan yang besar yang memiliki ratusan hak paten dari penemuannya. Pertanyaan yang terbesit adalah “apakah anak seperti ini memang ada?” atau itu adalah bentuk fiksi acara dari tontonan film. Jawabannya adalah “ADA”. Sejarah mencatat banyak penemu dan ilmuan masa lalu yang memiliki kemampuan seperti itu. Mozart di bidang seni, Magnus Carlsen, Sergey Kerjakin dan Paul Morphy di bidang catur, Pablo Picasso di bidang seni, atau ilmuan abad 21 seperti Einstein, Stephen William Hawking dll.  Pada bidang matematika siapakah ilmuan yang tergolong memiliki kemampuan luar biasa “prodigy, talented atau gifted”?.

Pertama yakni Carl Friedrich Gauss, merupakan ilmuan besar dalam bidang sains terutama matematika. Memberikan kontribusi besar pada bidang matematika seperti teori bilangan, statistics, analisis, diferensial geometri serta pada bidang lain seperti geodesi, geofisika, elektro, optik dll. Pada usia 10 tahun ketika diberikan soal oleh gurunya 1+2+3+4+5+6…..100 dan ditinggal gurunya untuk keluar kelas dengan harapan siswa menghitung soal tersebut membutuhkan waktu yang lama, akan tetapi sebelum gurunya melangkah keluar kelas Gauss kecil sudah bisa menemukan jawabannya. Semenjak itu dia terus menunjukkan kemampuan yang luar biasa dalam belajar sehingga Gauss bisa menyelesaikan permasalahan yang pada masanya belum terpecahkan dan membuat teori-teori baru dalam bidang matematika dan sains.

Di Asia ada nama  Srinivasa Ramanujan, Matematikawan dari India, yang belajar matematika secara otodidak yang menyelesaikan permasalahan-permasalahan dalam matematika yang tidak bisa diselesaikan ilmuan matematika di institusi pendidikan tetapi bisa diselesaikan oleh Ramanujan “seorang anak yang tidak mengenyam pendidikan secara resmi di sekolah atau perkuliahan. Dia hidup dengan dikeluarga miskin di kota kecil di India (Madras) yang pada masanya banyak wabah penyakit. Dari buku-buku yang didapatkanya dari temanya dia mempelajari sendiri matematika. Dia mendapatkan beasiswa untuk bisa masuk di universitas di India. Nilai test matematikanya sempurna akan tetapi gagal pada tes lain seperti psikologi. Setelah itu dia memutuskan untuk belajar sendiri tentang matematika tanpa ada guru yang membimbingnya. Dia menyelesaikan teorema dan membuat teorema-teorema baru yang belum ada. Ketika hasilnya dikirimkan ke Beberapa universitas di Inggris berapa menolak dan ada yang menerima. Akan tetapi karena Ramanujan tidak memiliki ijazah / background pendidikan formal sehingga universitas tidak bisa menerimanya menjadi mahasiswa. Sampai pada akhirnya Matematikawan terkenal Inggris dari University of Cambrigde, G.H Hardy menerima karyanya dan berkolaborasi untuk meneliti matematika di Cambridge. Sekitar 5 tahun dia kemudian sakit dan pulang kembali ke India. Selang beberapa hari setelah kepulangannya dia meninggal dunia. Ramanujan mewariskan ratusan karya yang menjadi dasar dan kajian matematika modern terutama pada bidang “INFINITY” sehingga dia dijuluki S. Ramanujan “the man who knew infinity”. Di India, atas jasa-jasa yang telah diberikan dia dikenang dengan diberikan hari khusus matematika “hari matematika”.

Masih ada beberapa lagi ilmuan matematika yang dijuluki “math Prodigy”. Sedangkan pada masa sekarang pada abad 21. Ada anak yang diklaim sebagai “math prodigy”. Dia adalah Jacob Barnnet atau lebih dikenal dengan “jake”, yang memiliki IQ 170, lebih tinggi dari Einstein pada seusianya. Dia bisa mengingat sesuatu dengan sama persis walaupun sudah berbulan  bulan. Dia bisa mengingat ratusan bahkan lebih serangkain bilangan dan menyebutkannya kembali tanpa salah. Padahal pada masa balita dia divonis Autis. Dia mengatakan bahwa Autis yang menyebabkan dia mendapati kemampuan seperti ini dan dia bersyukur atas Autis yang pernah dideritanya. Sekarang dia sedang mengambil program P.hD dan meneliti matematika di Indiana University.

Lihat Jake di sini

atau di sini

Moch. Lutfianto

Designer, Researcher, Writer in Math Education.