Kisah singkat ini mungkin sudah sering didengar oleh agan-agan, tapi saya mencoba untuk menyampaikannya kembali. Kali-kali ada yang dapat mendapatkan makna lain sesuai dengan konteks pribadinya masing-masing.

Di dalam pondok pesantren kita akansering menjumpai kegiatan makan bersama dikarenakan adanya event. Salah satunya adalah maulud nabi. Suatu ketika setelah maghrib diadakan “bancaan” untuk memperingati kelahiran nabi Muhammad SAW. Seperti biasa setelah doa dihaturkan oleh Kyai maka acara makan-makan dimulai. Dalam sajian makanan yang ada  tidak lupa ada satu kue khas yang selalu ada yakni “Apem”. Kue ini berbentuk bulat seperti lingkaran tetapi memiliki ruang atau bola yang dipenyetkan.

kue apem

Kue Apem

Setelah selesai berdoa, santri ustad makan bersama sedangkan kyai mencicipi makan sebentar dan meninggalkan ruangan tempat bancaan karena ada urusan lain yang harus di selesaikan segera. Setelah selesai makan tersisalah  beberapa makanan terutama apem yang masih cukup banyak. Oleh santri apem tersebut dipakai buat mainan yakni lempar-lemparan sepeninggal ustad dari ruang makan juga.Apem pada berserakan, ada yang hacur karena benturan dengan badan ada juga yang penyet karena terinjak injak. Tempat bancaan itu menjadi agak kotor karena remukan dan sisa dari apem. Seketika itu juga datanglah sang Kyai yang telah selesai dengan urusannya dan mendapati anak-anak bermain lempar-lempaarn apem. Sang Kyai dengan tenang tidak memarahi para santrinya. Dikumpulkanlah remukan apem sisa tersebut dan dibawa pergi. Keesokaan harinya setelah selesai aktivitas Diniyah dipagi hari tibalah untuk makan bersama. Sang kyai yang biasanya jarang hadir bersama santri untuk makan bersama tiba-tiba datang. Setelah santri sudah siap seporsi makanan didepanya dan doa telah dibacakan sang Kyai mengeluarkan piring yang dibawanya untuk memakannya bersama santri. Sebelum semuanya makan kyai mengatakan ini adalah rizki yang diberikan Allah kepada saya yang saya harus mensyukurinya. Kyai tersebut kemudian memakan makanan yang dia bawa. Semua santri melihat ke kyai tersebut dan memerahlah mata para santri. Mereka melihat kyai mereka memakan remukan apem yang digunakan untuk main lempar-lemparan kemarin malam. Kyai meminta kepada santri untuk segera memulai makan. Dengan mata sebam dan sesegukan santri memakan seporsi sarapan yang ada didepannya. Beberapa santri makan dengan melihat kyai mereka makan dengan tanpa melihat makanan dan meneteskan air mata.

Pada akhir makan pagi Kyai berpesan kepada santrinya untuk selalu bersyukur atas nikmat yang Allah berikan salah satunya adalah dengan menghargai makan. Salah satu cara menghargai makanan adalah menghabiskan apa yang sudah dijatahkan atau yang sudah kita ambil. Tidak mensiskan makan bukan berarti kita rakus akan tetapi lebih kepada rasa tanggung jawab kita akan keputusan yang diambil terkait dengan makanan yang telah diberikan. Menghargai makanan dengan tidak membuangnya merupakan salah satu contoh dan perbuatan dalam mensykuri nikmat Allah.