Beberapa malam kemarin ketika timnas sepakbola Indonesia melawan Philipina di piala AFF 2014 terdapat kata-kata yang sering menjadi bahan lontaran lantaran kekalahan timnas. “Mosok golek wong 11 ae kok uangel tenan yo..yo..”. Jika diterjemahkan kurang lebih seperti ini bunyinya, Mencari 11 orang pemain saja sangat sulit sekali. 

Jika kita melihat jumlah penduduk Indonesia yang lebih dari 250 juta seharusnya ada atau bisa dengan mudah dicari 11 pemain yang dapat mewakili Indonesia untuk menjadi pesepakbola yang dapat membanggakan bangsa ini. Akan tetapi kenyataanya berkata lain. Dari beberapa kejuaraan sepakbola yang diselenggarakan dan diikuti oleh Timnas Indonesia, jarang sekali kita mendengar Indonesia dapat membawa piala kejuaraan. Apa yang melatarbelakangi kegagalan-kegagalan timnas kita mendapatkan juara. Salah satunya adalah kita tidak pernah atau jarang melihat kompetitor kita.

Ya, kita terlalu terfokus pada diri sendiri. Mengukur peningkatan kemampuan diri sendiri tanpa dibarengi dengan melihat tim lain. Kita merasa bahwa ketika kita bisa mengalahkan tim lain pada ajang persahabatan maka kita merasa bahwa kita sudah lebih hebat padahal tidak demikian. Kompetitor lain melakukan lebih dari apa yang kita lakukan. Mereka belari lebih sering dan lebih kencang dari apa yang kita lalukan. Sehingga jangan berharap dengan bekal latihan dan trial atau ujicoba kita sudah merasa hebat. Kompetitior lain melakukannya jauh lebih baik dari kita. Dan hasilnya sudah bisa ditebak bahwa harapan tinggallah harapan.

Hal yang sama terjadi di pendidikan kita. Disaat kita disibukan dengan pergantian kurikulum dari K13 kembali ke KTSP 06, pergantian nomenklatur dikementrian, pergantian kepemimpinan kompetitior bangsa ini terus berlari dengan kencang. Tahun dengan jika MEA (masyarakat ekonomi asean) telah diterapkan maka bangsa ini akan kelabakan karena serbuat tenaga kerja terdidik dari negara-negara sekitar. Mestinya kita harus memiliki fukus yang tinggi untuk pengembangan pendidikan dengan culture dan karakter Indonesia akan tetapi dengan terus berpijak pada bencmarking negara lain dalam menyusun kebijakan pendidikannya.

Jangan sampai kita menjadikan bangsa yang hanya banyak saja dijumlah (penduduk) akan tetapi tidak memiliki taji didalam pendidikan maupun timnasnya……(MoL)